Rabu, 26 Oktober 2011

KISAH PERJALANAN CINTA



Sejumlah risalah cinta yang hampir dipercaya seluruh manusia adalah kisah Adam dan Hawa disurga. Ketika kesepian muncul pada insan cetakan perdana itu, Tuhan berkenan memberinya seorang “kawan” konon diambil dari bagian tubuhnya sendiri. Sebuah tulang rusuk, mudah patah, tersebutlah ia bernama Hawa.
Namun Percintaan Bapa Adam dan Ibu Hawa ditaman firdaus mendapat cobaan dari Allah. Mereka  diusir dari surga karena melanggar aturan dengan mengikuti ajakan iblis. Sebagaimana termaktub dalam kitab samawi, ditafsirkan bahwa mereka diturunkanke bumi dengan  tempat yang berbeda. Beratus tahun terpisah,beratus tahun hidup dalam kesendirian mereka saling mencari. Kita bisa bayangkan secara puitik-dramatik, kepiluan mereka yang dipendam kerinduan untuk bisa berjumpa didasari gelora cinta sepasang manusia. Saat itu belum ada sosok lain, tak ada kekasih pengganti, tak terpikir untuk selingkuh. Memorabilia yang terekam hanyalah pasangannya di Taman Firdaus. Cinta melampaui segala yang mereka miliki.Rasa penyesalan diseratai doa yang tulus akhirnya Allah mempertemukan kembali mereka dalam koleksi air mata penghabisan di Jabbal Rahmah. Cinta kepada Tuhan menyelamatkan cinta Adam kepada Hawa dan sebaliknya.
Cinta antara Adam dan Hawa  dimuka bumi merupakan awal dari revolusi manusia yang ditandai dengan  lahirnya anak-anak kembar yang mengawali sejarah berdarah-darah umat manusia. “Cinta” yang dikondisikan dengan perkawinan silang antara Habil dan Iqlima, dengan konsekuensi Qabil dan Labuda, merupakan peluang bagi iblis untuk membuktikan ikrar yang diucapkan di hadapan Tuhan. Qabil membunuh Habil karena menginginkan saudara kembarnya, Iqlima. Peristiwa itu memecahkan rekor paling dini untuk kejahatan di muka bumi. Saya kira, itulah tragedi yang melampaui cinta, bahkan menginjak-injak makna cinta sebagai rahmat.
Pada kisah yang terjadi di masa peradaban berikutnya , tidak kurang revolutif dan dramatik. Hayam Wuruk yang jatuh cinta (melalui lukisan) terhadap Dyah Pitaloka berujung pada Perang Bubat karena politisasi ambisi Gajah Mada. Cinta Kaisar Justinianus terhadap Theodora, pelacur yang bangkit dari wilayah paling suram menuju istana, menunjukkan diri sebagai sang penakluk.  Kemudian Dalam legenda Ramayana, saya pribadi menyangsikan cinta Rama kepada Shinta karena semata mementingkan kcperawanan sebagai kesucian. Saya salut kepada Rahwana yang memperjuangkan cintanya kemudian ia di cap sebagai perangai jahat. Hati yang Perawan, sebuah film pada 80-an, yang diangkat dari novel Prasanti mungkin mewakili sebuah kebenaran dari sisi lain. Cinta seorang perempuan terhadap kekasihnya lebih hakiki ketimbang badan yang sudah dimiliki pria lain. Kemudian cerita Siti Nurbaya merupakan tokoh utama dalam novel berjudul asli Siti Noerbaja yang  berkisah tentang percintaan sepasang kekasih, Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang gagal karena keadaan dan budaya pada masa itu. Siti Nurbaya dipaksa kawin dengan seorang saudagar kaya bernama Datuk Meringgih.
Mengapa tema cinta tak juga bosan ditulis para pengarang? Mungkin kita semua tahu jawabannya, dengan beribu varian. Bahkan dalam kisah-kisah perang, misteri, horor, apalagi petualangan, selalu ada bumbu cinta di dalamnya. Seolah disepakati bahwa cinta menjadi bagian yang “menghidupkan” pada fiksi-fiksi dunia.
Logikanya Cinta tak mengenal tempat dan suasana di wilayah gosongsomalia ataupun , Di pedalaman yang tak terjangkau cahaya langsung matahari, masih tumbuh cinta. Di tempat-tempat beku setara Alaska, tersedia hangatnya cinta. Bahkan di abad kini, cinta kembali mengulang ironi dengan memanggil gairah Sodom dan Gomorah di masa Nabi Luth. Dalam penyimpangan kodrati itu, mereka menangkis tuduhan masyarakat normatif dengan tameng hak asasi. Cinta telah sampai pada batas sakit. Mungkin itulah perasaan-perasaan yang melampaui cinta!
Tapi, sejauh mana pesona cerita cinta yang normal? realitas yang hadir sesuai dengan dambaan tidak lagi memesona. Pembaca “membutuhkan” kisah cinta yang membuat kita terperanjat, berdebar, cemas, memikirkannya berhari-hari. Saya kira, perlu diungkap kisah cinta yang memperkaya kasus-kasus psikologi.
Salah satunya adalah Oka Rusmini yang menggarap tema-tema seperti itu. Cinta mirip sebuah kutukan. Cinta berada pada posisi bimbang dan terpaksa melawan keyakinan. Olenka, novel Budi Darma, mengungkap keliaran karakter manusia dalam cinta. Kemudian kisah  Sangkuriang dan Dayang Sumbi atau Bandung Bondowoso dan Loro Jonggrang?
Cinta kadang-kadang menemui kegelapan, seperti sengaja menguji eksistensinya dalam lorong-lorong kelam jiwa manusia. Dalam kumpulan  cerita pendek yang terhimpun pada buku “Bercinta di Bawah Bulan (2004)”. Di sana cinta memiliki warna kelabu, sephia, atau bahkan noir. Cinta membuat seseorang memilih bunuh diri, cinta memutuskan menghabisi kekasihnya karena tak ingin berbagi, cinta menciptakan kepribadian ganda, cinta membuat perasaan bersalah tak kunjung sirna, cinta liar seperti hewan… Dalam sebuah artikel mendalam, Anya Rompas memandangnya sebagai cerpen-cerpen gothic, ketika cinta tidak memberikan kenyamanan, melainkan teror yang nikmat.****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar