Sejumlah risalah cinta yang
hampir dipercaya seluruh manusia adalah kisah Adam dan Hawa disurga. Ketika
kesepian muncul pada insan cetakan perdana itu, Tuhan berkenan memberinya
seorang “kawan” konon diambil dari bagian tubuhnya sendiri. Sebuah tulang rusuk,
mudah patah, tersebutlah ia bernama Hawa.
Namun Percintaan
Bapa Adam dan Ibu Hawa ditaman firdaus mendapat cobaan dari Allah. Mereka diusir dari surga karena melanggar aturan
dengan mengikuti ajakan iblis. Sebagaimana termaktub dalam kitab samawi,
ditafsirkan bahwa mereka diturunkanke bumi dengan tempat yang berbeda. Beratus tahun terpisah,beratus
tahun hidup dalam kesendirian mereka saling mencari. Kita bisa bayangkan secara
puitik-dramatik, kepiluan mereka yang dipendam kerinduan untuk bisa berjumpa
didasari gelora cinta sepasang manusia. Saat itu belum ada sosok lain, tak ada
kekasih pengganti, tak terpikir untuk selingkuh. Memorabilia yang terekam
hanyalah pasangannya di Taman Firdaus. Cinta melampaui segala yang mereka
miliki.Rasa penyesalan diseratai doa yang tulus akhirnya Allah mempertemukan
kembali mereka dalam koleksi air mata penghabisan di Jabbal Rahmah. Cinta
kepada Tuhan menyelamatkan cinta Adam kepada Hawa dan sebaliknya.
Cinta antara Adam
dan Hawa dimuka bumi merupakan awal dari
revolusi manusia yang ditandai dengan lahirnya anak-anak kembar yang mengawali sejarah
berdarah-darah umat manusia. “Cinta” yang dikondisikan dengan perkawinan
silang antara Habil dan Iqlima, dengan konsekuensi Qabil dan Labuda, merupakan
peluang bagi iblis untuk membuktikan ikrar yang diucapkan di hadapan Tuhan.
Qabil membunuh Habil karena menginginkan saudara kembarnya, Iqlima. Peristiwa
itu memecahkan rekor paling dini untuk kejahatan di muka bumi. Saya kira,
itulah tragedi yang melampaui cinta, bahkan menginjak-injak makna cinta sebagai
rahmat.
Pada kisah yang
terjadi di masa peradaban berikutnya , tidak kurang revolutif dan dramatik.
Hayam Wuruk yang jatuh cinta (melalui lukisan) terhadap Dyah Pitaloka berujung
pada Perang Bubat karena politisasi ambisi Gajah Mada. Cinta Kaisar Justinianus
terhadap Theodora, pelacur yang bangkit dari wilayah paling suram menuju
istana, menunjukkan diri sebagai sang penakluk. Kemudian Dalam legenda Ramayana, saya pribadi
menyangsikan cinta Rama kepada Shinta karena semata mementingkan kcperawanan
sebagai kesucian. Saya salut kepada Rahwana yang memperjuangkan cintanya kemudian
ia di cap sebagai perangai jahat. Hati yang Perawan, sebuah film pada 80-an,
yang diangkat dari novel Prasanti mungkin mewakili sebuah kebenaran dari sisi
lain. Cinta seorang perempuan terhadap kekasihnya lebih hakiki ketimbang badan
yang sudah dimiliki pria lain. Kemudian cerita Siti Nurbaya merupakan tokoh
utama dalam novel berjudul asli Siti Noerbaja yang berkisah tentang percintaan sepasang kekasih,
Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang gagal karena keadaan dan budaya pada masa
itu. Siti Nurbaya dipaksa kawin dengan seorang saudagar kaya bernama Datuk
Meringgih.
Mengapa tema cinta
tak juga bosan ditulis para pengarang? Mungkin kita semua tahu jawabannya,
dengan beribu varian. Bahkan dalam kisah-kisah perang, misteri, horor, apalagi
petualangan, selalu ada bumbu cinta di dalamnya. Seolah disepakati bahwa cinta
menjadi bagian yang “menghidupkan” pada fiksi-fiksi dunia.
Logikanya Cinta tak
mengenal tempat dan suasana di wilayah gosongsomalia ataupun , Di pedalaman
yang tak terjangkau cahaya langsung matahari, masih tumbuh cinta. Di
tempat-tempat beku setara Alaska, tersedia hangatnya cinta. Bahkan di abad
kini, cinta kembali mengulang ironi dengan memanggil gairah Sodom dan Gomorah
di masa Nabi Luth. Dalam penyimpangan kodrati itu, mereka menangkis tuduhan
masyarakat normatif dengan tameng hak asasi. Cinta telah sampai pada batas
sakit. Mungkin itulah perasaan-perasaan yang melampaui cinta!
Tapi, sejauh mana
pesona cerita cinta yang normal? realitas yang hadir sesuai dengan dambaan
tidak lagi memesona. Pembaca “membutuhkan” kisah cinta yang membuat kita
terperanjat, berdebar, cemas, memikirkannya berhari-hari. Saya kira, perlu
diungkap kisah cinta yang memperkaya kasus-kasus psikologi.
Salah satunya
adalah Oka Rusmini yang menggarap tema-tema seperti itu. Cinta mirip sebuah
kutukan. Cinta berada pada posisi bimbang dan terpaksa melawan keyakinan.
Olenka, novel Budi Darma, mengungkap keliaran karakter manusia dalam cinta. Kemudian
kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi atau
Bandung Bondowoso dan Loro Jonggrang?
Cinta kadang-kadang
menemui kegelapan, seperti sengaja menguji eksistensinya dalam lorong-lorong kelam
jiwa manusia. Dalam kumpulan cerita
pendek yang terhimpun pada buku “Bercinta di Bawah Bulan (2004)”. Di sana cinta
memiliki warna kelabu, sephia, atau bahkan noir. Cinta membuat seseorang
memilih bunuh diri, cinta memutuskan menghabisi kekasihnya karena tak ingin
berbagi, cinta menciptakan kepribadian ganda, cinta membuat perasaan bersalah
tak kunjung sirna, cinta liar seperti hewan… Dalam sebuah artikel mendalam,
Anya Rompas memandangnya sebagai cerpen-cerpen gothic, ketika cinta tidak
memberikan kenyamanan, melainkan teror yang nikmat.****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar